Laman

Minggu, 13 Mei 2012

Jurnal Plankton



PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sebagian besar dari kita sudah tahu atau paham betul tentang plankton dan kehidupannya, tetapi, tidak sedikit juga yang asing mendengar istilah “plankton”. Plankton adalah organisme (tumbuhan dan hewan) yang hidupnya melayang atau mengambang dalam air dan pergerakaannya dipengaruhi oleh arus. Jadi, plankton dapat berupa tumbuhan yang biasa disebut “fitoplankton” dan plankton hewan atau”zooplankton”, dan jumlahnya tentu jauh lebih banyak daripada ikan. Banyaknya jumlah plankton tidak terlepas dari peranannya yang sangat penting, dimana fitoplankton mampu menghasilkan sumber energi (melalui proses fotosintesis) yang secara langsung atau tidak langsung dibutuhkan oleh semua mahluk hidup melalui proses rantai makanan (food chain) dalam  suatu  ekosistem
yang kompleks (Mulyadi, 2010).

Plankton berasal dari kata lain bahasa Yunani yang berarti pengembara. Fitoplankton maka mengacu pada organisme yang berkeliaran di perairan permukaan danau, sungai, dan lautan. Plankton termasuk banyak kelompok alga. Kelompok taksonomi yang dominan berbeda antara air tawar dan laut. Di perairan tawar, cyanobacteria dan alga hijau yang mencolok dan morfologi beragam sementara di samudera kelompok-kelompok ini terutama diwakili oleh cyanobacteria coccoid kecil dan microflagellates hijau. Dinoflagellata terjadi di air tawar dan lingkungan laut tetapi jauh lebih dominan dan beragam di lautan. Diatom yang melimpah di kedua sistem air (Graham dan Wilcox, 2000). 

Tujuan Praktikum

Adapun tujuan praktikum ini dilaksanakan adalah untuk mengevaluasi kualitas suatu perairan dengan penggunaan indeks hayati, untuk mengetahui jenis plankton yang terdapat di suatu perairan, dan untuk dapat mengetahui klasifikasi dari plankton yang didapat di perairan tersebut.

Kegunaan Praktikum

Adapun kegunaan praktikum ini sebagai salah satu syarat untuk mengikuti praktikal test di Laboratorium Planktonologi Fakulatas Pertanian Universitas Sumatera Utara.







 TINJAUAN PUSTAKA

Plankton adalah organisme air yang hidupnya melayang-layang dan pergerakannya sangat dipengaruhi oleh gerakan air. Plankton dibagi menjadi fitoplankton, yaitu organisme plankton yang bersifat tumbuhan dan zooplankton, yaitu plankton yang bersifat hewan. Selain itu berdasarkan siklus hidupnya dikenal holoplankton, yaitu plankton yang seluruh siklus hidupnya bersifat planktonik dan meroplankton, yaitu plankton yang hanya sebagian dari siklus hidupnya yang bersifat planktonik. Sebenarnya plankton juga mempunyai alat gerak (misalnya flagelata dan ciliata) sehingga secara terbatas plankton akan melakukan gerakan-gerakan, tetapi gerakan tersebut tidak cukup untuk mengimbangi gerakan air disekelilingnya, sehingga dikatakan bahwa gerakan plankton sangat dipengaruhi oleh gerakan air. Berdasarkan habitat hidupnya, dibedakan antara haliplankton, yaitu plankton yang hidup di habitat laut dan limnoplankton, yaitu plankton yang hidup di habitat air tawar. Selanjutnya plankton dapat dibagi berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu makroplankton dengan ukuran tubuh > 500 µm (untuk haliplankton, > 2 mm), mikroplankton dengan ukuran tubuh 20 – 200 µm (untuk haliplankton, 50 – 500 µm), nanoplankton dengan ukuran tubuh 2 - 20 µm (untuk haliplankton, 10 - 50 µm) dan ultraplankton dengan ukuran tubuh < 2 µm (untuk haliplankton, < 10 µm). Selain itu terdapat kelompok megaplankton yang mempunyai ukuran tubuh yang sangat besar seperti kelompok medusa (Cyanea arctica) yang mempunyai diameter tubuh 2 m dan panjang tentakel lebih dari 30 m. Kelompok ini merupakan kelompok  plankton  yang  sangat  jarang  ditemukan  dan  umumnya  hidup  pada
habitat laut (Barus, 2004).

Kehadiran plankton (fitoplankton dan zooplankton) di dalam air merupakan makanan utama ikan-ikan kecil, sehingga keberadaannya tanda kesuburan pada perairan. Mikroalga sering mengakibatkan blooming (bunga air). Dalam keadaan ini, maka yang terjadi adalah ikan-ikan kecil menjadi mati, disebabkan karena mikroalga menghasilkan toksin yang dapat meracuni ikan; dan terjadi korosi terhadap logam, karena di dalam massa mikroalga penyebab blooming   didapatkan    bakteri    Fe   atau   bakteri   S   penghasil   asam   korosif     
(Waluyo, 2009).

Plankton sebagai produsen primer melakukan fotosintesis. Hasil dari proses fotosintesis yang dilakukan merupakan produktivitas primer. Produktivitas primer fitoplankton dapat diukur dengan selisih botol gelap dan botol terang. Hal tersebut tentu kan menunjukkan adanya kegiatan respirasi dan fotosintesis oleh fitoplankton. Pada kondisi terang tentu terjadi keduanya, tetapi kondisi gelap   tidak demikian karena fitoplankton hanya mengalami respirasi. Oleh                       sebab itu, cahaya  sangat  dibutuhkan  fitoplankton  untuk  melakukan  fotosintesis                     
(Ssanyu dan Schagerl, 2010).

Berbagai upaya dilakukan untuk menekan laju peningkatan emisi CO2 di atmosfer (pemanasan global). Semua negara di dunia diwajibkan memanfaatkan seluruh potensi sumber daya yang ada. Salah satu sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi emisi CO2 adalah lautan. Di dalam lautan terdapat berbagai organisme laut yang dapat menyerap CO2. Organisme laut yang dapat menyerap emisi CO2 diantaranya adalah fitoplankton. Fitoplankton merupakan organisme autotrof yang mempunyai klorofil sehingga dapat melakukan proses fotosintesis dan menghasilkan O2 (Ivan, 2009).

Perairan tidak hanya merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar tetapi juga menjadi pusat pembangunan berkelanjutan, yang akhirnya terkait dengan kesehatan, pertanian, energi, dan pengentasan kemiskinan. Daerah aliran sungai didefenisiskan sebagai suatu unit lahan alami, di atas lahan mana air yang jatuh atau yang keluar dari sumber (mata air) atau yang mencair dari es/salju (untuk wilayah yang bersalju), dan gagal menguap, maka air tersebut terkumpul oleh gaya berat dan mengalir melalui permukaan menuju pintu keluar (outlet) bersama.   Outlet   bersama   tersebut   dapat   berupa   sungai,   danau,   atau  laut        
(Rais, dkk., 2004).

Kehidupan ekosistem perairan memiliki kondisi atau keadaan dalam perairan yang dapat menentukan kualitas perairan tersebut dan mempengaruhi aktivitas organisme terutama plankon. Kondisi tersebut merupakan faktor fisik dan kimia perairan. Beberapa faktor fisik yang terlibat, yakni sifat substrat, baik padat, batu batu, kerikil, lumpur pasir, atau gambut adalah aspek umum dari flora ditentukan untuk sebagian besar oleh faktor ini; tekanan biasanya hal ini dalam kasus focoids vesikular ada batas sampai kedalaman kekuatan air; suhu dapat mempengaruhi distribusi biogeografi, dan untuk setiap lokalitas tertentu, tetapi mungkin ada perubahan musiman dalam temperatur yang dapat mempengaruhi komposisi flora (ada atau tidak adanya faktor lagi); penerangan melibatkan variasi musiman pada intensitas cahaya, variasi diurnal dalam kaitannya dengan saat air tinggi; dan intensitas cahaya aktual dan spektrum pada kedalaman yang berbeda. Beberapa faktor kimia yang terlibat, yakni salinitas dapat beroperasi sebagai faktor ada atau tidak adanya di tempat di mana air tawar berjalan di laut atau di mana ada laguna pesisir; subtsrat umumnya perbedaan komposisi kimia memiliki sedikit efek pada flora; pH (keasaman) dengan pH air laut biasanya berkisar dari sekitar 7-9 dan faktor tersebut tidak ada kepentingan besar untuk ganggang litoral meskipun mungkin signifikansi dalam beberapa kolam batu tinggi di mana pada siang hari, pH bisa naik sampai 10; kandungan oksigen biasanya rendah tetapi cukup untuk keperluan metabolisme;  dan  nutrisi  penting  dalam  mengendalikan
periodisitas  musiman plankton laut dan air tawar (Chapman, 1962).

Laut merupakan sebuah ekosistem besar yang menjadi tempat hidup bagi berbagai macam biota laut, dari yang berukuran kecil hingga yang berukuran besar, yang hidup di pesisir hingga hidup di laut dalam. Biota laut adalah berbagai jenis organisme hidup di perairan laut yang menurut fungsinya digolongkan menjadi tiga, yaitu produsen,konsumen dan produsen primer. tetapi jauh lebih dominan dan beragam di lautan. Diatom yang melimpah di kedua sistem air
(Graham dan Wilcox, 2000). 

Air merupakan sumberdaya yang terperbarui yang esensial untuk kehidupan kita. Air mengalami suatu daur. Air jatuh dari langit sebagai hujan. Hujan sebagian lagi mengalir di atas permukaan tanah dan sebagian lagi masuk ke dalam tanah. Oleh panas matahari air menguap. Dari uap air terbentuklah awan dan dari awan terbentuklah hujan. Daur ini berlangsung sepanjang masa tak ada habisnya. Hutan dan bentuk vegetasi lain mempunyai peranan penting dalam daur ini. Dengan adanya hutan lebih banyak yang meresap ke dalam tanah (Soemarwoto, 2004).




METODE PRAKTIKUM


Waktu Dan Tempat  Praktikum

Praktikum dilaksanakan di perairan Pulau Unggeh, Kecaamatan Pandan, Kabupaten Taanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Praktikum dilaksanakan pada tanggal 7 April 2011 Pukul 08.00-15.00 WIB.

Bahan dan Alat Praktikum

Adapun bahan yang digunakan pada saat praktikum adalah air laut, lugol, fehling A, dan aquadest. Adapun alat yang digunakan pada saat praktikum adalah plankton net, ember, baskom, handsprayer, pipet tetes, botol sampel, corong, object glass, cover glass, mikroskop cahaya, buku gambar, kalkulator, dan alat tulis.

Metode Praktikum

Adapun metode yang digunakan dalam praktikum adalah dengan menggunkaan indeks diversitas Shanon-Wiener:
H’ = -  Pi ln Pi
Keterangan:
Pi  =  jumblah suatu spesies  : Jumblah semua spesies
Parameter yang Diamati

            Adapun parameter yang diamati adalah keragaman plankton, suhu, cahaya matahari, arus, dan sedimen.

Prosedur Praktikum

            Adapun prosedur praktikum adalah:
1.      Sediakan air laut sebanyak 50 L
2.      Masukkan air tadi ke dalam plankton net dan semprot dengan handsprayer berisi aquadest
3.      Ambil sampel sebanyak 50 ml dan pisahkan pada dua botol sampel
4.      Tambahkan 3-4 tetes lugol pada botol sampel pertama dan fehling A pada botol sampel yang kedua
5.      Ambil kembali sebanyak 1 ml dari (50 ml)
6.      Ambil kembali sebanyak 1 tetes (dari 1 ml) dan teteskan pada object glass dan ditutup dengan cover glass
7.      Amati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x40
8.      Gambar di buku gambar
9.      Beri keterangan klasifikasi,bentuk ukuran,cara perkembangbiakan dan kehidupan (habitat)
10.  Hitung indeks hayati dan beri keterangan tingkat pencemaran perairan yang diamati.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Nama Plankton
Jenis
Jumlah/tetes
Jumlah/ml
Jumlah/50ml
Zat
Carteria sp.
Fitoplankton
1
20
1000
Fehling A
Ceratium sp.
Zooplankton
1
20
1000
Lugol
Frontonia sp.
Zooplankton
5
100
5000
Lugol
Microcystis sp.
Fitoplankton
3
60
3000
Fehling A
Microspora sp.
Fitoplankton
3
60
3000
Lugol
Nostoc sp.
Fitoplankton
1
20
1000
Lugol
Oedogonium sp.
Fitoplankton
9
180
9000
Fehling A
Oedogonium sp.
Fitoplankton
12
240
12000
Lugol
Pediastrum sp.
Fitoplankton
5
100
5000
Lugol
Polyarthra sp.
Zooplankton
1
20
1000
Lugol
Stephanoceros sp.
Zooplankton
2
40
2000
Fehling A
Stiegeoclonium sp.
Fitoplankton
3
60
3000
Lugol
Synedra sp.
Fitoplankton
3
60
3000
Fehling A
Synedra sp.
Fitoplankton
2
40
3000
Lugol




Rumus:
Indeks keanekaragaman hayati (Shanon-Wiener):
H’ = -  Pi ln Pi
Keterangan:
Pi  = 

H’ = -  Pi ln Pi
     = - [ (ln) + (ln) + (ln) + (ln) + (ln) +            (ln) + (ln) + (ln) + (ln) + (ln) +        (ln) + (ln) ]
= - (-0,077 - 0,077 - 0,226- 0,165 - 0,165 - 0,077 - 0,367- 0,226 – 0,077 –          0,127 – 0, 165 – 0226)
= - (-1,968)
H’ = 1,968

Pembahasan

            Berdasarkan hasil praktikum diperoleh indeks keanekaragaman plankton perairan di pulau Unggeh sebesar 1,968. Indeks ini menunjukkan bahwa laut pulau Unggeh tercemar ringan. Menurut Lee, dkk. (1975) indeks keanekaragaman dpat dikelompokkan sebagai berikut:
            >2,0                 =          tidak tercemar
            2,0-1,6             =          tercemar ringan
            1,5-1,0             =          tercemar sedang
            <1,0                 =          tercemar berat
Keadaan ini dipengaruhi oleh beberapa parameter yang terdapat di laut tersebut. Diantaranya sedikit aktivitas yang dilakukan oleh manusia akibatnya tidak banyak suplai nutrisi yang mendukung perairan tercemar. Intensitas cahaya yang cukup hangat mengurangi kadar oksigen terlarut  sehingga  tidak  begitu  banyak  jumlah
organismenya.
Jenis plankton yang ditemukan antara lain Carteria sp., Ceratium sp., Frontonia sp., Microcystis sp., Microspora sp., Nostoc sp., Oedogonium sp., Pediastrum sp., Polyarthra sp., Stephanoceros sp., Stiegeoclonium sp., dan Synedra sp. Plankton yang ditemukan dominan pada jenis fitoplankton. Hal ini diakibatkan karena praktikum yang dilakukan pada siang hari terdapat cahaya matahari yang diperlukan fitoplankton untuk berfotosintesis. Menurut            Barus (2004), fitoplankton adalah organisme plankton yang bersifat tumbuhan. Dengan  demikian,  fitoplankton   mampu   melakukan  proses  fotosintesis  untuk
menghasilkan bahan organik karena mengandung klorofil.
Oleh karena fitoplankton dapat melakukan fotosintesis, maka fitoplankton adalah sumber penghasil oksigen terbesar karena laut merupakan bagian terbesar dari bumi ini. Menurut Ivan (2009), berbagai upaya dilakukan untuk menekan laju peningkatan emisi CO2 di atmosfer (pemanasan global). Semua negara di dunia diwajibkan memanfaatkan seluruh potensi sumber daya yang ada. Salah satu sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi emisi CO2 adalah lautan. Di dalam lautan terdapat berbagai organisme laut yang dapat menyerap CO2. Organisme laut yang dapat menyerap emisi CO2 diantaranya adalah fitoplankton.   Fitoplankton   merupakan   organisme   autotrof   yang  mempunyai
klorofil sehingga dapat melakukan proses fotosintesis dan menghasilkan O2.
Fitoplankton sebagai produsen dapat mempengaruhi rantai makanan yang ada di laut tersebut. Jumlah ikan di laut tersebut dapat hidup karena adanya fitoplankton, yang dimakan zooplankton, yang kemudian akan dimakan ikan kecil dan besar. Menurut Waluyo (2009), kehadiran plankton (fitoplankton dan zooplankton) di dalam air merupakan makanan utama ikan-ikan kecil, sehingga keberadaannya tanda kesuburan pada perairan. Mikroalga sering mengakibatkan blooming (bunga air). Dalam keadaan ini, maka yang terjadi adalah ikan-ikan kecil menjadi mati, disebabkan karena mikroalga menghasilkan toksin yang dapat meracuni ikan; dan terjadi korosi terhadap logam, karena di dalam massa mikroalga penyebab blooming didapatkan bakteri Fe  atau bakteri S penghasil   asam korosif.




KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1.      Bahwa diketahui plankton adalah Plankton adalah organisme air yang hidupnya melayang-layang dan pergerakannya sangat dipengaruhi oleh gerakan air.
2.      Bahwa diketahui jenis plankton yang ditemukan di laut pulau Unggeh antara lain Carteria sp., Ceratium sp., Frontonia sp., Microcystis sp., Microspora sp., Nostoc sp., Oedogonium sp., Pediastrum sp., Polyarthra sp., Stephanoceros sp., Stiegeoclonium sp., dan Synedra sp.
3.      Bahwa diketahui indeks keanekaragaman plankton laut pulau Unggeh adalah 1,968 dan menunjukkan bahwa peariran ini tercemar ringan.
4.      Bahwa diketahui fitoplankton adalah produsen yang dapat mempengaruhi rantai makanan yang ada di laut tersebut.
5.      Bahwa diketahui plankton khususnya fitoplankton dapat mengurangi pemanasan global karena merupakan penyerap emisi CO2 dan penghasil O2 terbesar di bumi.

Saran

Sebaiknya pengambilan sampel air langsung disaring plankton net-nya pada perairan dan tidak menggunakan ember atau penampung air lainnya
 agar plankton yang didapat murni dari perairan tersebut.Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut agar plankton yang didapat lebih kompleks deskripsi karakteristiknya dan sebaiknya daratan sekitar perairan didukung dengan aktivitas yang mencukupi pembuangan limbah untuk nutrisi bagi kehidupan plankton dan tidak membuat perairan tercemar.






DAFTAR PUSTAKA

Barus, Ternala Alexander. 2004. Pengantar Limnologi. USU Press, Medan.
Chapman, V. J., and D. J. Chapman. 1962. The Algae, Second Edition. The           Macmillan Press, London.
Graham,   Linda   E.,  and   Lee   W.  Wilcox.  2000.   Algae.   Prentice-Hall,  Inc.,                        New York.
Ivan, Handoko. 2009. Peran Fitoplankton dalam Mengurangi Efek Rumah Kaca.   http://www.lipi.go.id [ 2 Mei 2011].
Mulyadi, H. Agus. 2010. Mengenal Dunia Plankton Lebih Dekat Sejak Dini.          http://www.lipi.go.id [ 3 Mei 2011].
Nugroho, D. Arif. Biota Laut. http://www.lipi.go.id [ 5 Mei 2011].
Rasi, Jacub, dkk. 2004. Menata Ruang Laut Terpadu. PT Pradnya Paramita,           Jakarta.
Soemarwoto, Otto. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan.  Djambatan, Jakarta.
Ssanyu, Grace A., and Michael Schagerl. 2010. http://www.academicjournals.org  [25 April 2011].

Waluyo, Lud. 2009. Mikrobiologi Lingkungan. UMM Press, Malang.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.